QS. Al Hadiid 57:22-23
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).
Nemu tulisan ini waktu baca-baca di wikipedia tentang takdir. What is takdir? Manusia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya. Kita adalah berusaha dan berdoa. Berusaha dengan sebaik-baiknya dan berdoa dengan ikhlas. Lalu mengenai hasil, tawakkal kepada Allah. Berserah diri kepadanya.
Kategori: Tafakkur
Ditandai: ibadah, ketetapan allah
Fa idzaa ‘azzamta, fa tawakkal ‘alallah. Innallaha yuhibbul mutawakkilin.
Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri kepadaNya
Sudah beberapa waktu ini merasa jenuh. Sekarang saatnya bangkit kembali. Mencoba menata lagi hati dan pikiran. Rabb…aku sungguh rindu kembali kepadaMu. Aku merindukan saat-saat bermunajat kepadaMu. Kemana perginya Tahajjud dan Puasa Sunah-ku? Aku memetik hikmah: Bahwa suatu amalan itu harus dikerjakan secara konsisten. Sekali terputus, berat untuk memulainya lagi.
Rabb..aku ingin memulai lagi, istiqomah untuk beribadah kepadamu. Menikmati indahnya malam-malam sunyi. Berdoa. Memohon ampunan atas segala salah dan khilaf.
Bismillah… Kuatkan tekad, do it consistency. Just do it!
Kategori: Tafakkur
Ditandai: ibadah, konsisten, tekad